do.sen /dosèn/
n tenaga pengajar pada perguruan tinggi.

Dosen lekat dibenak kebanyakan orang memang sebagai pengajar di tingkat perguruan tinggi. Tapi lebih dari itu dosen memiliki peran Tri Dharma: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian masyarakat. Peran ini puluhan tahun ke depan maupun ke belakang akan tetap sama. Namun, zaman terus berubah banyak hal harus menyesuaikan dan dimodifikasi, termasuk strategi menjadi dosen di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Industri

Era Revolusi Industri 4.0 dicirikan dengan kecerdasan buatan, keterlibatan sensor dan big data yang masif, dan teknologi cloud (awan). Profesi dosen juga tidak terlepas dari pengaruh teknologi yang sudah menjadi gaya hidup. Misalnya saja di ITERA, dosen menyelenggarakan kelas online yang di dalamnya sudah tersedia video mengajar, kuis online, forum diskusi, dan lain-lain. Dengan memanfaatkan cloud, video streaming perkuliahan jarak jauh menjadi secara langsung amat memungkinkan.

Sebenarnya 9 tahun lalu model pembelajaran blended learning semacam ini sudah pernah saya lalui di UGM. Jika dibandingkan pada masa itu koneksi internet tidak secepat sekarang. Informasi sebagai data juga tidak sebanyak sekarang. Platform atau wadah untuk mengembangkan e-learning juga tidak semaju sekarang. Bahasa pemrograman web HTML 5.0, pengembangan JSON, AJAX, dan lain-lain sangat mempengaruhi kualitas aplikasi berbasis cloud.

9 tahun lalu dosen-dosen yang mengelola blended learning berasal dari generasi X. Mereka adalah generasi perjuangan yang mengalami segala macam transformasi teknologi di dunia. Generasi X jugalah yang sebenarnya mengembangkan teknologi itu. Sementara saya sendiri adalah generasi Y (milenial) yang tumbuh besar bersama teknologi. Pada masa itu dosen-dosen kami masih kurang begitu optimal memanfaatkan teknologi. Memang akan selalu ada dua sisi, pendidikan harus dilakukan dengan tatap muka. Sisi lain akan berpendapat teknologi harus diadaptasi ke dalam pendidikan.

Internet Cafe

Lalu sampailah hari ini generasi milenial itu menjadi dosen untuk generasi milenial dan Z. Kami sama-sama digital native (berlaku perkecualian, milenial kadang gagap teknologi juga). Pengalaman yang saya rasakan memperkenalkan platform ke mahasiswa bukan suatu hal yang sulit. Justru lebih sulit memperkenalkan platform e-learning kepada para dosen (generasi X dan sebagian milenial).

Kalau ditanya di sisi mana saya berdiri menyikapi posisi pendidikan dan revolusi teknologi adalah berusaha di tengah. Saya percaya nilai luhur pendidikan, adab, etika, pengembangan diri hanya dapat dipupuk melalui tatap muka. Sisi lain saya menyadari pendidikan tinggi teknik punya porsi ilmu keras yang lebih banyak ketimbang itu semua. Ilmu keras ini bisa dipelajari sendiri dengan memanfaatkan buku cetak, e-library, internet, simulasi, aplikasi, berdiskusi, dan lain-lain. Dengan demikian pendidikan tinggi teknik cukup cocok untuk menerapkan model blended learning. Sementara pendidikan yang bersifat sosial dan agama sebaiknya memang mengutamakan tatap muka saja.

Menyikapi susahnya dosen milenial memahami teknologi, saran saya adalah dosen generasi ini amat perlu belajar teknologi bukan sebagai ilmu pengetahuan melainkan sebagai gaya hidup. Misalnya, sikap mudah mengadopsi teknologi atau platform komunikasi baru. Aplikasi Telegram dengan segala kecanggihannya adalah di atas teknologi WhatsApp. Jika satu-satunya alasan tidak menggunakan Telegram karena teman-teman masih ada di WhatsApp saja, maka kembali ke kalimat saya sebelumnya bahwa Telegram punya dominasi teknologi di atas WhatsApp. Alasan itu tidak akan lagi berguna apabila teman-teman Anda juga pada akhirnya beralih ke Telegram. Gaya hidup milenial adalah menyerap teknologi baru dengan sangat cepat. Laman dokumentasi, panduan, atau tutorial adalah bacaan paling terakhir bagi milenial saat mencoba-coba sebuah perangkat atau aplikasi, karena kami digital native.

Pemrograman

Selain itu dosen di era 4.0 wajib menguasai beberapa bahasa pemrograman. Entah sebagai bahasa komunikasi atau bahasa ilmu pengetahuan. Maksud saya semisal HTML 5.0 bisa digunakan untuk komunikasi, seperti saat ini saya menulis di blog berbasis Ghost 2.0 yang berjalan di cloud lokal dan pengoperasiannya berbasis terminal. Bahasa pemrograman lain seperti Matlab digunakan untuk bahasa ilmu pengetahuan, perhitungan numerik, matriks, pemodelan, dan lain-lain untuk ranah pengembangan ilmu.

YouTube

Dosen di era 4.0 juga dapat memanfaatkan konten YouTube, animasi GIF, desain grafis, video/image editor, dan lain-lain untuk misi pendidikan. Pada generasi sebelumnya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan adalah buku di perpustakaan. Namun pada era ini sumber ilmu pengetahuan juga masih buku, tetapi dalam e-book. Jurnal juga sudah jarang kita temukan dalam wujud cetak, semuanya online terindeks Google Scholar atau Scopus. Teknik mengajar tatap muka juga bisa kita tingkatkan dengan berlatih dan menonton kuliah profesor dari kampus ternama di YouTube. Animasi GIF (bisa buat sendiri) kita tunjukkan ke mahasiswa untuk memeragakan konsep tertentu. Multimedia secara lengkap (video dan audio) membantu visualisasi konsep-konsep abstrak.

Buku Agenda

Dosen di era 4.0 wajib memanfaatkan salah satu aplikasi calendar di smartphone-nya. Ini tahun 2018, smartphone kita amat canggih sampai bisa mengetikkan teks cukup dengan perintah ucap. Di tahun 2018 ini marilah kita menggunakan aplikasi calendar. Anda bisa menggunakan aplikasi bawaan dari Google atau Apple, atau versi berbayar yang banyak macamnya di PlayStore maupun AppStore. Dosen pada era sebelumnya biasanya memiliki sebuah buku agenda. Isinya adalah jadwal kuliah rutin, rapat kampus, lini masa penelitian, pengabdian, agenda keluarga, dan lain-lain. Di era ini marilah kita manfaatkan smartphone yang sangat canggih untuk membantu mengelola urusan-urusan kita.

Calendar Apps

Saya sendiri menggunakan Business Calendar 2.30.1 versi berbayar. Saya juga encourage mahasiswa-mahasiswi saya agar menggunakan aplikasi kalender untuk menjadwalkan pertemuan dengan dosennya. Sebelumnya mereka bisa email untuk membuat janji temu, lalu ditutup dengan meeting invitation melalui aplikasi kalender tersebut. Keuntungannya akan ada notifikasi, dia ingat saya pun ingat dengan janji temu tersebut. Gunakan juga kalender untuk mencatat jadwal kuliah, ujian, belajar, jalan-jalan, organisasi, dan lain-lain.

Cloud Drive Storage

Dosen di era 4.0 wajib memanfaatkan Cloud Drive. Saya sendiri sudah lama menggunakan Google Drive, media penyimpan lain seperti DropBox dan MediaFire ada juga tapi jarang digunakan. Google Drive paten terinstal di laptop saya sejak kejadian 2013 dan 2014 di mana laptop kecurian dua kali. Data hilang termasuk tugas akhir saya saat itu. Saya buat satu folder yang selalu sync ke server Google. Isinya macam-macam, dari kuliah, penelitian, desain, data, e-book, artikel jurnal, dan lain-lain. Terutama yang saya tekankan adalah artikel jurnal dan e-book. Betapa menguntungkan memiliki bahan bacaan yang ter-sync di banyak perangkat sekaligus. Saat ada waktu untuk membaca buku tinggal buka smartphone dan mencari buku yang hendak dibaca. Tidak perlu khawatir kuota habis karena jaringan wifi gratis dan publik saat ini semakin mudah ditemukan.

Presentasi

Dosen di era 4.0 wajib memanfaatkan Google Docs dan beragam alternatifnya. Intinya adalah betapa mudahnya mengetik, membuat presentasi, menghitung tabel, dan semua itu tersimpan di server penyimpan cloud. Untuk kegiatan pendidikan di kelas sendiri saya suka menggunakan Google Slides. Tidak ada ceritanya flash drive tertinggal yang isinya presentasi perkuliahan. Cukup koneksi ke internet (tethering) dan langsung menayangkan presentasi dari jendela browser.

Menjadi dosen di era 4.0 untuk misi pendidikan kira-kira itu dulu yang bisa saya catat. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Wisma ITERA, 3 September 2018