Arah dokumentasi tulisan ini ialah hadirnya Standard Operational Procedure (SOP) atau Prosedur Operasional Baku (POB) dari kegiatan produksi video e-learning (pembelajaran daring).

Latar belakang penulisan ini ialah:

  1. Belum adanya POB produksi video e-learning di lingkungan ITERA.
  2. Pelaksanaan aktualisasi pelatihan dasar CPNS tahun 2019.
  3. I do my job as a hobby. Jika bisa dibayar untuk bergembira, why not?
  4. Saya ingin melatih diri blogging + vlogging untuk tema pendidikan.

Untuk melaksanakan produksi video saya memerlukan persiapan yang terdiri dari metode dan perlengkapan. Dua hal ini saling berkaitan dan skenarionya tidak ada yang paling benar, sebab semuanya menyesuaikan situasi dan ketersediaan pembiayaan.

Pembiayaan produksi ini ialah swadaya dan pembelian peralatan-peralatan sudah saya cicil jauh-jauh hari yaitu sejak saya kuliah S2 di ITB (3 tahun lalu). Kok mau saya beli alat jutaan untuk pekerjaan yang dibayar gratis? Dibilangin ini hobby kok!

METODE

Dalam produksi video dua hal yang akan saya rekam yaitu audio dan video. Luaran audio yang diharapkan adalah jernih, tidak merekam bising ruangan, terdengar natural sebagaimana aslinya. Luaran video yang diharapkan adalah gambar bergerak yang bersih, warna natural, pencahayaan yang cukup, dan kalau saya tambahkan satu lagi adalah memiliki warna latar belakang yang solid/sewarna. Kriteria terakhir ini akan saya jelaskan di paragraf selanjutnya.

Pembiayaan yang serba swadaya maka metode produksi audio yang akan saya kerjakan juga cukup simpel tapi tetap memerhatikan kaidah-kaidah miking (teknik perekaman audio dan video yang sesuai dengan fenomena Fisika). Saya belajar bertahun-tahun miking ini dan akhirnya punya wadah untuk saya coba aplikasikan di sini.

Untuk bisa melaksanakan miking yang prima saya memerlukan ruangan yang tidak bergema. Cirinya ialah ruangan yang tidak terlalu besar dan sudah berisi perabotan lumayan lengkap. Apabila ruangan bergema maka di dalam ruangan bisa ditambah peredam sederhana berupa kain tebal dan diselimutkan ke seluruh ruangan. Solusi semacam ini ialah sementara, sehingga apabila produksi telah selesai maka kain tebal bisa dilepas.

Studio produksi idaman.

Selanjutnya saya akan memilih mikrofon yang bisa disematkan di tubuh pembicara. Hal ini dikarenakan pada percobaan produksi video di kesempatan lain saya menggunakan mikrofon yang diletakkan di meja. Luaran audionya terdengar aneh tatkala terdengar kegaduhan ruang dan juga gerakan-gerakan tak sengaja yang terjadi di atas meja.

Lalu berpindah pada produksi video, saya sudah bereksperimen merekam video dari demonstrasi tayangan laptop dan juga video yang menampilkan wajah pembicara. Untuk video pertama saya menggunakan software perekam tayangan laptop, detailnya diuraikan pada bagian PERLENGKAPAN. Lalu video kedua saya menggunakan kamera smartphone yang dipasang pada penyangga berkaki tiga. Gambar wajah yang saya perlukan adalah informasi ekspresi yang bersih dan latar belakang yang berwarna solid atau utuh. Pada pemrosesan produksi akhir nanti latar belakang dapat dihapus sehingga menghasilkan sematan video wajah yang berlatar transparan diletakkan di pojok kiri bawah seperti gambar berikut ini.

Cuplikan video kuliah daring Fisika Dasar 2 (TPB) produksi Januari 2019. (tonton)

PERLENGKAPAN

Dengan cara yang sama sebagaimana di bagian METODE saya membagi ke dalam dua pokok perlengkapan, yaitu untuk produksi audio dan video.

Perlengkapan Produksi Audio

  1. Ruang representatif yang rendah bising dan cukup terisolasi dari keramaian.
  2. Mikrofon Lavalier dengan penguat sinyal internal.
  3. Perangkat lunak penyuntingan: Audacity, Reaper, Adobe Audition.

Perlengkapan Produksi Video

  1. Ruang representatif yang tercahayai secara difus.
  2. Memiliki latar belakang warna dinding yang solid dan sewarna. Bisa menggunakan green screen.
  3. Kamera smartphone yang memiliki resolusi hasil minimum 720p.
  4. Perangkat lunak penyuntingan: Final Cut Pro X (untuk Mac).
  5. Laptop atau komputer yang memiliki RAM cukup untuk merekam tangkapan layar sendiri.
Skematik kasar hubungan antar perlengkapan produksi.

PELAKSANAAN

Diperlukan keterlibatan beberapa pihak dalam pelaksanaan produksi konten. Sejauh yang saat ini terpikirkan di bawah ini adalah peran-peran yang harus ada.

  1. Content Creative. Tugasnya adalah menyediakan konten yang kreatif dan positif. Karena tema produksi ini adalah pendidikan maka CC harus memahami topik perkuliahan, idealnya ya dosen.
  2. Technician. Tugasnya adalah mengelola dan menyiapkan seluruh perangkat elektronik yang akan terhubung dan digunakan selama produksi. Siapapun bisa menjadi T, terutama yang suka memahami perangkat elektronik dan software.
  3. Educator. Tugasnya adalah menjadi aktor yang membawakan pembelajaran daring sesuai arahan CC. E idealnya adalah juga dosen, sebab yang menyampaikan pengetahuan harus betul-betul memahami skenario dan bahan yang disiapkan CC.
  4. Video Editor. Tugasnya adalah bertanggung jawab pada pengelolaan materi-materi konten yang muncul di produk akhir. VE akan mengelola animasi, efek, cuplikan video, bunyi, musik, coloring, keying, dan banyak lainnya.
  5. Quality Control. Tugasnya adalah memastikan produk akhir terunggah di internet secara sempurna. QC akan memeriksa seluruh durasi video sehingga ia layak tampil dan ditonton mahasiswa.