Kenyamanan huni sebuah lingkungan bangunan atau ruangan menjadi perhatian di Indonesia. Iklim tropis dan cuaca yang biner berupa kemarau dan penghujan, menghasilkan ciri parameter lingkungan yang panas dan lembab. Untuk merespon kondisi ini, manusia beradaptasi agar area aktivitasnya terasa nyaman dan aman. Tulisan ini mengulas beberapa strategi mendinginkan ruang yang benar dan salah kaprah, untuk mengedepankan edukasi saya ketengahkan poin salah kaprah dulu.

Water Spray Cooling Fan

Memutar kipas dicampur dengan butiran air. Strategi ini sebetulnya ingin memanfaatkan sifat air yang sejuk, sehingga dengan dilepaskan sebagai butiran air ke udara didorong dengan kipas yang kencang hasilnya adalah pendinginan lingkungan. Kira-kira begitu harapannya. Kenyataannya adalah temperatur memang akan turun, tetapi kelembaban meningkat. Apa gunanya temperatur udara turun tapi kita tidak dapat berkeringat. Esensi dari kenyamanan termal adalah manusia harus bisa berkeringat dengan bebas.

Hubungan antara temperatur udara kering, temperatur udara basah, dan kelembaban relatif digambarkan sebagai Grafik Psikrometri (download) sebagaimana di bawah ini.

Grafik Psikrometri (dari www.airchangedehumidification.com.au)

Kenyamanan termal manusia didasarkan pada hal berikut:

  1. Adanya udara yang mengalir di sekitar permukaan kulit manusia atau dengan kata lain ada angin. Namun kecepatan angin perlu diperhatikan tidak semua angin dapat memberikan kenyamanan. Kecepatan aliran di atas 3 meter per detik malah menyebabkan dokumen-dokumen berterbangan dan bagi manusia sendiri dapat kehilangan temperatur internalnya sehingga dapat kedinginan dan metabolisme tubuhnya terganggu.
  2. Kelembaban relatif yang memungkinkan manusia untuk berkeringat. Kenyamanan berdasarkan ini masing-masing orang akan berbeda. Orang yang tinggal di daerah pegunungan kota Malang yang lembab dan cenderung dingin sudah terbiasa untuk bisa berkeringat pada tingkat kelembaban dan temperatur seperti itu. Apabila ia berpindah ke kota Surabaya yang dekat dengan laut maka ia akan kesulitan untuk berkeringat karena temperaturnya terlalu tinggi dan kelembaban juga tinggi. Solusinya adalah ke nomor 1, berikan angin atau udara yang bergerak.
  3. Temperatur sejuk yang memungkinkan manusia untuk berkeringat. Poin nomor 3 dan 2 ini saling berkaitan dan sudah diberikan contoh sebagaimana orang asal Malang yang berpindah ke Surabaya. Namun demikian manusia adalah makhluk adaptif, dalam beberapa waktu ia dapat menyesuaikan diri dan mencapai tingkat kenyamanan meski kondisinya tidak ideal dibandingkan situasi sebelumnya. Bagi orang asal Malang temperatur 20 derajat Celcius itu normal, bagi orang Surabaya 26 derajat Celcius itulah yang normal. Referensi normal masing-masing orang berbeda.

Pada salah kaprah ini, panitia berupaya meningkatkan kecepatan aliran udara dengan kipas, ini hal baik. Lalu ditiupkan butiran air ke dalam ruangan ini strategi yang buruk karena tingkat kelembaban lingkungan akan meningkat dan kulit manusia akan cenderung basah sehingga kesulitan untuk berkeringat. Adapun temperatur akan turun sesaat namun setelah itu akan terus cenderung meningkat karena pengguna ruang yang amat banyak adalah sumber panas aktif.

1 orang = 100 Watt

Sumber panas aktif yang saya maksud adalah tiap individu yang berada di dalam ruang memancarkan panas secara radiasi. Satu orang yang sedang duduk bersantai memancarkan radiasi kurang lebih sebesar 100-150 Watt. Apabila aktivitasnya meningkat seperti berolahraga maka dapat melonjak lebih dari itu. Apabila berat tubuhnya mendekati obesitas radiasinya juga akan lebih dari itu. Ilustrasi yang mudah adalah nyala dan panas lampu bohlam 100 Watt, 80% energi dari lampu bohlam diubah menjadi panas. Jadi kira-kira masing-masing dari kita ini sepanas lampu tersebut (atau bahkan lebih).

Saya menjumpai strategi ini di acara outdoor pernikahan atau hajatan secara umum. Di mana kita bisa memahami bahwa kelembaban relatif dapat segera menyesuaikan diri dengan alam bebas dan tidak terperangkap pada ruang tertutup. Sementara itu pada kesempatan yang lain kipas berpendingin air dipasang di acara indoor. Tak terbayang berisiknya bunyi karena kipas terpasang lebih dari 4! Dan kelembaban relatifnya langsung meningkat hingga lama-kelamaan menyebabkan sesak nafas bagi yang hidungnya sensitif mengindera udara kering dan udara basah.

Yang harus kita waspadai pula adalah kualitas air yang disemburkan ke udara. Apakah air tersebut cukup bersih? Apakah tangki air secara regular selalu dibersihkan dari jamur dan bakteri? Mempertanyakan ini arahnya hanya satu yaitu memastikan kenyamanan dan keamanan (kesehatan) untuk para penggunanya.

Dapat disimpulkan penggunaan kipas berpendingin air ini untuk konteks Indonesia masih bisa digunakan untuk lingkungan outdoor. Namun menjadi sangat tidak tepat untuk penggunaan indoor.